Tampilkan postingan dengan label Nyadhar Sumenep. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nyadhar Sumenep. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Agustus 2014

Pangeran Anggasuto Dinilai "Dewa Penyelamat"

PortalMadura.Com, Sumenep – Bagi masyarakat Pinggir papas, Karang Anyar, Kabupaten Sumenep, dan masyarakat Madura pada umumnya, utamanya masyarakat yang berpenghasilan garam, nama Pangeran Anggasuto sudah tidak asing lagi.


Bahkan oleh petani garam, Pangeran Anggasuto sudah dianggapnya sebagai dewa penyelamat dan memberi makan para petani garam. Siapa sebenarnya Pangeran Anggasuto dan mengapa sampai “didewakan”?


Pangeran Anggasuto, merupakan seorang tokoh yang sangat terkenal pada zamannya. Cerita masyarakat setempat, selain sakti mandraguna, Anggasuto juga memiliki keistimewaan yang jarang dimiliki orang lain.


Hingga pada suatu waktu, Pangeran Anggasuto yang berdomisili di sekitar pemakaman Asta Buju’ Gubang, Kampung Kolla, Desa Kebun Dadap Barat, Kecamatan Saronggi, kedatangan tamu tentara kerajaan Bali, yang ingin meminta perlindungan karena akan dibunuh.


Oleh mereka, Pangeran Anggasuto dianggapnya orang sakti yang dipercaya mampu menolong dan menyelamatkan. Dengan keluhuran budi pekertinya yang welas asih, Pangeran Anggasuto mau menolong dan menyelamatkan nyawa mereka dari ancaman pembunuhan, dengan syarat mereka harus mengamalkan ilmu Anggasuto, yakni mengubah air laut menjadi garam.


“Cerita yang berkembang secara turun-temurun memang begitu, leluhur kami berguru ilmu menjadikan air laut menjadi garam kepada Pangeran Anggasuto,sehingga tiap akan memulai bertani garam, atau usai panen Pertama dan panen Kedua, diadakanlah acara nyadhar ke Asta (pemakaman, red) Anggasuto,” kata Buk Kiftiye (50), warga Pinggir Papas, Kecamatan Kalianget, Sumenep.


Dikatakan, Tentara Bali yang diselamatkan oleh Anggasuto, dengan tekun mengamalkan ilmu membuat air laut menjadi garam, sebagaimana yang diajarkan oleh Anggasuto. Akhirnya lama kelamaan, tentara Bali yang tinggal di Desa Pinggi Papas dan sekitarnya, menggantungkan kebutuhan hidupnya pada pembuatan garam.


Namun sebelum mereka memulai pekerjaannya membuat garam, tentara kerajaan Bali terlebih dahulu sowan ke kediaman Anggasuto, di Kecamatan Saronggi. Hal itu tidak hanya dilakukan sebelum mereka akan bertani, melainkan setelah usai panen garam. Dan hingga saat masih kental, dan masyarakat petani garam menyebutnya “Nyadhar” yang artinya bernadar untuk kesuksesan taninya.(dien/htn)



Pangeran Anggasuto Dinilai "Dewa Penyelamat"

Jumat, 08 Agustus 2014

Keunikan Nyadhar di Makam Pangeran Anggasuto

PortalMadura.Com, Sumenep – Masyarakat Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, khususnya di wilayah Kecamatan Saronggi tentu tidak asing lagi dengan makam Pangeran Anggasuto di Kampung Kolla, Desa Kebun Dadap Barat.


Makam sesepuh masyarakat setempat yang diyakini sebagai orang pertamakali yang memperkenalkan budidaya garam itu berada di dalam kompleks pemakaman Asta Buju’ Gubang. Konon, disebut Buju’ Gubang karena disekitar pemakaman tersebut ada kali, masyarakat setempat menyebutnya gubang.


Penelusuran PortalMadura, didalam kompleks tersebut terdapat tujuh (7) makam. Selain makam Pangeran Anggasuto dan istrinya Nyai Rahmah, juga terdapat makan tiga saudara Pangeran Anggasuto yakni Mbah Kabasah, Mbah Dukun, dan Mbah Bangsa. Dua makam lainnya, Nyai Tinaju Pornama (istri Mbah Kabasah) dan Makam Nyai Tinaju Bekkas (istri Mbah Dukun).


Nyadhar pertama, kerap digelar pada saat panen garam. Lalu, Nyadhar besar-besaran dilakukan pada puncak panen garam. Masyarakat yang bekerja garam, mayoritas mengikuti acara Nyadhar yang dilambangkan sebagai bentuk syukur terhadap hasil panennya.


Tak ayal, pada saat Nyadhar masyarakat berduyun-duyun datang, semisal dari Desa Pinggir Papas, Desa Karanganyar dan Desa Palebunan, serta masyarakat lain dari luar Kabupaten Sumenep yang mempunyai penghasilan garam.


Tasyakuran tersebut dilambangkan dengan cara berdoa bersama dan membawa sejumlah makanan khas daerah masing-masing. Sebagai bentuk penghormatan pada sang pangeran, mereka juga membawa bunga atau membeli disekitar areal pemakaman. Bunga tersebut ditempatkan diatas nisan pangeran melalui petugas khusus yang dituakan oleh masyarakat setempat.


“Kalau mau ikut berdoa, ya harus beli bunga dulu. Lalu, berikan pada orang yang ada di dalam pendopo (sebelum masuk ke areal pemakaman, red),” kata Nafsah (47), salah seorang warga asal Desa Pinggir Papas, Sumenep yang akan melakukan ritual nyadhar, Jumat (8/8/2014) malam.


Prosesi Nyadhar dilakukan dua hari. Hari pertama menggelar doa bersama dan dilanjutkan hingga dini hari. Keesokan harinya (hari kedua) berbagai macam hiburan dan kesenian lokal ditampilkan. “Kalau malam hari banyak yang bermalam disini, mas!. Besok kan ada kegiatan juga,” tandasnya.(htn)



Keunikan Nyadhar di Makam Pangeran Anggasuto