Tampilkan postingan dengan label H Moh Sahnan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label H Moh Sahnan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Oktober 2014

Inilah Sosok Santri yang Sukses Berwiraswasta

PortalMadura.Com, Sumenep – H. Moh. Sahnan bukanlah orang asing atau baru di Sumenep. Ia merupakan putera daerah asli Kabupaten Sumenep yang lahir di Arjasa, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.


Masa kecilnya dihabiskan di Pulau Kangean. Ia lahir tumbuh dan besar di lingkungan keluarga besar kaum nahdliyyin. Orang tuanya merupakan seorang guru ngaji yang memiliki surau yang banyak dijadikan tempat belajar mengaji oleh anak-anak di sekitar rumahnya.


Pendidikan H. Moh. Sahnan lebih banyak dihabiskan untuk menekumi dan mendalami ilmu-ilmu agama. Sewaktu masih belia, di kampung halamannya ia banyak berguru kepada sejumlah kiai. Sewaktu duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah, H. Moh. Sahnan menekumi di Pondok Pesantren Al-Hidayah Arjasa.


Salah satu gurunya yang terkenal hingga kini adalah Kiai Abdul Adhim, seorang tokoh agama kharismatik yang memiliki puluhan ribu santri, dan pengasuh pondok pesantren terkenal di Kepulauan Kangean dan sekitarnya.


Lulus dari Madrasah Ibtidaiyah, H. Moh. Sahnan melanjutkan pendidikan ke Madrasah Tsanawiyah, masih di pondok pesantren yang sama, dengan menginduk ke Madrasah Tsanawiyah Tarate Sumenep. Di Madrasah Tsanawiyah, pengetahuan keagamaannya semakin terasah dan kental. Ia seperti mewarisi jiwa orang tuanya yang juga seorang guru agama.


Saat remaja, H. Moh. Sahnan cukup dikenal sebagai siswa yang memiliki otak moncer dan cerdas. Salah satu mata pelajarannya adalah matematika, mata pelajaran yang menjadi momok bagi para siswa pada waktu itu. Namun tidak demikian bagi H. Moh. Sahnan, ia malah lebih menyukai matematika dibanding dengan mata pelajaran lainnya.


Lulus Madrasah Tsanawiyah, H. Moh. Sahnan mencoba hidup merantau jauh dari orang tua. Ia berangkat ke Sumenep untuk menuntut ilmu. H. Moh. Sahnan mencoba hidup mandiri dan terpisah dari orang tua. Saat itu, anak muda yang pergi merantau  ke Sumenep terbilang jarang, hanya kalangan tertentu yang berani merantau ke Sumenep, H. Moh. Sahnan satu di antaranya.


Ia pernah diterima di tiga sekolah lanjutan tingkat atas sekaligus. Ia diterima di Sekolah Menengah Atas (SMA) 1 Sumenep, Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Sumenep, dan Pendidikan Guru Agama (PGA) Sumenep. Meski sangat ingin belajar di SMA 1 Sumenep, namun dorongan dan naluri keagamaannya, di samping karena dorongan keluarga besarnya, akhirnya H. Moh. Sahnan memutuskan untuk melajutkan pendidikan di pendidikan guru agama.


Pendidikan agama sangat kental dan mengalir deras di dalam tubuhnya. Sewaktu belajar di PGA H. Moh. Sahnan juga ikut nyantri dan mengaji kitab kuning di Pondok Raudlatut Thalibin yang diasuh oleh Kiai Mukmin. Di samping belajar formal di PGA, H. Moh. Sahnan juga menghabiskan sebagian waktunya untuk belajar kitab kuning secara nonformal.


H. Moh. Sahnan, SH Remaja Pemberani, Pandai Bergaul dan Pekerja Keras


Sewaktu belajar di PGA, H. Moh. Sahnan dikenal teman-teman sekolah maupun teman sepermainannya merupakan sosok remaja yang pandai bergaul dan setia kawan. Sehingga H. Moh. Sahnan banyak sekali memiliki kawan dan rekan yang hingga kini masih tetap terhubung meski mereka tidak tinggal bersama dalam satu sekolah maupun satu kota.


Sebagai remaja yang berada di rantau dan sedang mengadu nasib menuntut ilmu, nyali H. Moh. Sahnan terasah dan terbilang cukup berani. Meski belajar di pendidikan guru agama, ternyata ia berani menghadapi orang yang dianggapnya mengganggu harga diri dan teman-temannya.


Gara-gara teman sekelasnya diledek, pernah suatu ketika ia menantang berkelahi seorang remaja yang merupakan putera seorang tokoh terkenal di Sumenep waktu itu. Malah dari saking nekadnya, H. Moh. Sahnan sempat mendatangi kediaman seterunya itu hingga ke rumahnya di Lenteng Sumenep.


Atas sikapnya tersebut, teman-teman sekolahnya mengenal H. Moh. Sahnan sebagai siswa yang pemberani dan tidak kenal takut. Sehingga dengan sendirinya, H. Moh. Sahnan dituakan oleh rekan sekelas maupun rekan sekolahnya. Namun hal tersebut tidak membuatnya bersikap sombong, rekan dan sahabatnya malah semakin banyak.


H. Moh. Sahnan menyelesikan pendidikan guru agama pada tahun 1988. Setelah itu ia sibuk bekerja dan mengurus keluarganya. Namun kebiasaan H. Moh. Sahnan untuk berkumpul bersama rekan dan sahabat tetap ia lestarikan dengan membiasakan diri untuk bertemu secara berkala setiap tahun dengan teman-temannya sesama alumni pendidikan guru agama (PGA). Malah, H. Moh. Sahnan sering rela berkorban dengan mengeluarkan biaya sendiri hanya untuk keperluan silaturrahim dan berkumpul bersama teman-temannya di Kabupaten Sumenep.


Setiap tahun, secara rutin, H. Moh. Sahnan menghadiri kegiatan reuni dan temu kangen para alumni yang digelar oleh para alumni pendidikan guru agama, baik sesama rekan, maupun juga melibatkan para guru, di Kabupaten Sumenep. Tak hanya bersama rekan-rekan sejawatnya, H. Moh. Sahnan juga terlihat familiar dan suka sekali berkumpul bersama para warga kepulauan yang ada di Jawa Timur maupun di Kalimantan Selatan.


Secara personal, saat berkumpul bersama rekan maupun sesama warga kepulauan, ia tidak ingin terlihat menonjol, ia bersikap sama saja dengan rekan-rekan lainnya yang juga hadir. Malah untuk hidangan, makanan dan minuman yang disediakan oleh pihak pengundang, H. Moh. Sahnan lebih menyukai makanan dan minuman tradisional dibandingkan dengan makanan lain. Ia terlihat tampak bersemangat saat menyantap makanan tradisional khas Sumenep dan kepulauan, dibandingkan saat menyantap makanan modern, yang biasanya dinikmati sekadarnya.


Begitu pula dengan usaha yang dijalankannya, ia banyak sekali memberdayakan orang-orang telah dikenalnya, baik berdasarkan pendidikan, maupun asal daerahnya. Terutama untuk usaha batu bara dan jasa kontraktor, ia banyak melibatkan tenaga kerja dari wilayah Sumenep maupun kepulauan. Dengan begitu secara tidak langsung ia juga berkontribusi untuk membantu keluarga orang-orang yang ikut bekerja bersamanya.


Sejak sekolah di pendidikan guru agama itu, H. Moh. Sahnan dikenal juga sebagai sosok pekerja keras. Kondisi keluarga yang serba pas-pasan, menempanya menjadi remaja yang mandiri dan pekerja keras. Di saat jam sekolah sudah usai, terutama pada malam hari, ia terbiasa menarik becak, untuk mendapatkan upah yang digunakan untuk membiaya keperluan hidup selama berada di Sumenep. (mc/htn)



Inilah Sosok Santri yang Sukses Berwiraswasta

Selasa, 28 Oktober 2014

Tekad, Semangat dan Pengabdian H. Moh. Sahnan

PortalMadura.Com, Sumenep – Bermula dari kepergiannya merantau ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada tahun 2001, kisah sukses perjalanan hidup H. Moh. Sahnan, diukir. Saat ini H. Moh. Sahnan menggeluti dunia usaha yang jarang dilakukan oleh warga Sumenep.


Usaha pertambangan batu bara. Usaha yang dirintisnya sejak tahun 2000 dan 2001 tersebut, kini seakan sudah menjadi bagian dari karir dan perjalanan bisnisnya. Setidaknya, saat ini tercatat usaha tambang batu bara yang dijalaninya telah beroperasi di tiga kabupaten yang ada di Kalimantan Selatan.


Dari usaha batu bara yang dijalaninya kini usahanya merambah bidang lain yaitu jasa pelabuhan yang juga ada di Kalimantan Selatan. Atas keberhasilan menjalankan usaha batu bara dan pelabuhan ini, banyak pengusaha dan tokoh di Jakarta yang berniat mengajaknya untuk bermitra dan menjalankan usaha, terutama di bidang jasa pelabuhan.


Atas keberhasilan dan kesuksesannya dalam menjalankan berbagai usaha dalam skala besar, padat modal, padat tenaga kerja juga teknologi itu, H. Moh. Sahnan mendapat kepercayaan dari salah satu pemerintah di Jawa Tengah untuk menjadi kontraktor persiapan pembuatan kawasan industri terbesar di Jawa Tengah, dengan nilai yang cukup fantastis, hingga ratusan miliar rupiah.


Bagi H. Moh. Sahnan, apa yang dilakukannya tak sekadar dimaknai semata-mata sebagai bisnis untuk mencari keuntungan. Namun itu juga merupakan bentuk kepercayaan mitra terlebih lagi pihak pemerintah dan swasta kepada dirinya. Sehingga hal itu menjadi poin tersendiri bagi usaha yang digelutinya. H. Moh. Sahnan bersyukur dengan segala nikmat dan kelebihan yang dimilikinya, sehingga ia berupaya untuk memberi manfaat kebaikan dan juga memberdayakan orang lain dari apa yang diberikan kepadanya.


Salah satunya adalah dengan cara menginvestasikan dananya untuk mengembangkan usaha-usaha lain yang secara otomatis akan membuka lapangan pekerjaan, yang pada akhirnya menggerakkan perekonomian keluarga maupun masyarakat di lokasi usahanya berada.


Di daerah Surabaya Barat, H. Moh. Sahnan membuka usaha restoran yang mempekerjakan warga sekitar hingga 50 orang. Usaha kuliner ini secara langsung membawa dampak pada perputaran ekonomi bagi karyawan dan keluarganya, juga masyarakat sekitar.


H. Moh. Sahnan dikenal warga sebagai salah satu warga yang peduli dan penuh perhatian terhadap lingkungan dan masyarakat di mana ia berasal. Setiap kali lebaran dan pulang kampung ia selalu menyempatkan diri untuk menyantuni tetangganya yang kurang mampu dan tidak beruntung secara ekonomi.


Tak hanya itu, ia termasuk orang yang peduli terhadap kegiatan remaja, pemuda dan masyarakat. Ia selalu menjadi donatur dari kegiatan olahraga dan budaya yang digelar di daerahnya di Sumenep. Bahkan H. Moh. Sahnan dikenal sebagai donatur tetap dari berbagai kegiatan yang digelar oleh warga maupun pemuda dan pemerintah setempat, baik terkait dengan kegiatan perayaan hari besar nasional maupun keagamaan.


Baginya, semua hal yang dilakukannya merupakan wujud dari rasa cintanya terhadap lingkungan masyarakat, tempat dirinya tumbuh dan dibesarkan sehingga menjadi tokoh yang dapat dibilang berhasil. Dan tentu saja itu merupakan bagian dari pengabdiannya kepada masyarakat.


Dalam diri H. Moh. Sahnan, mengalir darah jiwa sebagai pejuang untuk meraih cita-cita dan keberhasilan dalam karir. Pada sisi yang lain hembusan dan tarikan nafasnya bermakna pengabdian yang tinggi terhadap lingkungan sosial dan masyarakat. Tak rugi kepulauan dan Kabupaten Sumenep memiliki putera daerah seperti H. Moh. Sahnan, pejuang yang gigih dan pengabdi yang setia pada kepentingan masyarakat.


Sebagai pengusaha yang malang-melintang di berbagai bisnis, tentu saja H. Moh. Sahnan memiliki banyak jaringan dan koneksi. Termasuk menghantarkannya untuk berteman dengan para tokoh di level nasional. Dengan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakri, ia sering kali berhubungan untuk kepentingan bisnis.


Begitu pula dengan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Hatta Ratjasa ia cukup kenal. Bahkan dengan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ia juga kenal. Begitu pula dengan sederet tokoh lain di level nasional maupun propinsi.


Semua Berawal dari Nol


Siapa sangka, di balik prestasi gemilang yang ditorehkannya sebagai seorang pengusaha dan wiraswastawan, ternyata H. Moh. Sahnan menyimpan kisah perjuangan yang cukup pahit dan berliku. Bahkan, kisah pahit dan jatuh bangun dalam membangun usaha itu yang kemudian menempa dirinya menjadi seorang wiraswasta yang mampu menghadapi segala tantangan dan rintangan dalam meraih cita-cita dan keinginan yang tinggi.


Setelah lulus dari Pendidikan Guru Agama (PGA) sekitar tahun 1993, H. Moh. Sahnan mencoba peruntungan dengan berjuang dan bekerja di negeri jiran Malaysia. Disana H. Moh. Sahnan bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia yang membangun berbagai fasilitas dan infrastruktur negara Malaysia. Mulai dari jalan, gedung, rumah dan berbagai fasilitas pemerintah yang ada. Sebagai tenaga kerja Indonesia yang saat itu sangat dibutuhkan oleh pemerintah Malaysia.


H. Moh. Sahnan terbilang warga negara Indonesia yang cukup beruntung dengan penghasilan yang terbilang besar. Namun, H. Moh. Sahnan rupanya tidak mau menikmati manisnya bekerja di Malaysia sendirian. Ia kemudian membantu warga Kepulauan Kangean dan sekitarnya untuk bekerja di Malaysia. Berkat upaya yang dilakukannya banyak warga Kepulauan Kangean dan sekitarnya yang kemudian bisa bekerja di Malaysia dan selanjutnya bisa mengirim uang ke kampung halaman mereka untuk membantu keperluan orang tua, keluarga dan sanak saudara mereka.


Sebagai orang yang memiliki semangat juang dan wiraswasta yang menyukai tantangan dan berani dalam menghadapi suasana dan dunia baru, H. Moh. Sahnan kemudian hijrah ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Di Banjarmasin H. Moh. Sahnan memasuki dunia yang sama sekali baru baginya. Ia mencoba usaha dan bisnis di bidang pertambangan batu bara, sebuah usaha yang selama ini cukup asing bagi dirinya.


Keawamannya dalam dunia batu bara ini yang kemudian dimanfaatkan oleh orang yang memiliki iktikad tidak baik, dan membuatnya rugi hingga miliaran rupiah. Namun pengalaman pahit tersebut menjadi pelajaran penting yang bermanfaat bagi keberhasilannya dalam menjalani usaha batu bara.


Terbukti, berselang tak begitu lama setelah kejadian tersebut, usaha batu bara yang dijalani H. Moh. Sahnan maju secara drastis. Bagi H. Moh. Sahnan, di balik semua hal yang terjadi pada dirinya pasti ada hikmah begitu besar yang telah disiapkan oleh Allah SWT, sehingga bagi manusia hanya menerima dan sabar dengan segala yang terjadi.


Apa yang Allah SWT siapkan untuk hamba-Nya pasti menjadi hal yang terbaik, yang kadang secara tidak mampu ditangkap sejak awal. Namun seiring dengan perjalanan kehidupan manusia, hal tersebut akan dapat dibaca, dianalisis dan direnungkan, sebagai salah satu cara Allah SWT menguji dan untuk selanjutnya, memberi kelebihan bagi hamba-Nya.


Berbakti Kepada Orang Tua dan Sayang Keluarga


Salah satu kunci keberhasilan dalam menjalankan usaha maupun karirnya sebagai wiraswatawan, H. Moh. Sahnan percaya dan yakin dengan apa yang disebut “karomahnya” orang tua, terutama ibu. Bagi H. Moh. Sahnan ibu merupakan kompas yang selalu mengarahkan gerak jarum kehidupannya. Sehingga, seluruh titah dan restu ibunya yang dikenal sebagai wanita yang rajin dan tekun beribadah menjadi penuntun langkah kehidupan dan karirnya.


Malah, bagi H. Moh. Sahnan ibu merupakan sumber energi utama dalam menjalani kehidupan dan usahanya. Salah satu cita-cita yang dulu tertanam dalam jiwanya adalah ingin membanggakan orang tuanya terutama sang ibu, selama orang tuanya masih ada. Baginya, membanggakan orang tua bukanlah persoalan membalas jasa dan kebaikan orang tua kepada anaknya, namun lebih pada bakti anak yang harus selalu ditunjukkan oleh anak kepada orang tuanya.


Salah satunya adalah dengan cara menghajikan orang tuanya. Hal tersebut yang terus membuat dirinya giat bekerja dan berusaha, hingga kemudian keinginan tersebut terwujud secara nyata. H. Moh. Sahnan mengaku sangat bersyukur bisa mewujudkan mimpi dan keinginannya untuk menghajikan orang tuanya.


Alhasil, H. Moh. Sahnan hampir pasti selalu berkonsultasi kepada ibunya, sekaligus meminta restu dan doa ibunya, saat hendak memutuskan sebuah hal penting dan mendasar dalam kehidupan maupun usaha yang dijalaninya. Jika restu ibu tak diperoleh, berat bagi dirinya untuk memulai melakukan hal tersebut. Namun jika restu ibu sudah diraih, maka itu merupakan sokongan besar yang akan membuat semangatnya semakin kuat.


Selain itu, keluarga yang sangat mendukung terhadap segala usaha dan perjalanan karirnya menjadi kata kunci kedua yang menjadi ujung tombak keberhasilan dan kesuksesannya selama ini. Keluarga yang bahagia, harmonis dan saling mengisi merupakan bagian dari pilar paling penting dalam sebuah perjalanan usaha dan karir seseorang.


Banyak orang tidak menyadari betapa pentingnya keberadaan isteri dan anak-anak bagi seorang suami dan ayah dalam mengelola dan menjalankan usahanya. Namun tidak begitu bagi H. Moh. Sahnan, ia mengerti dan paham betul posisi penting dan strategis dari seorang isteri dan anak-anak. Sehingga dengan begitu, ia memposisikan isteri dan anak-anaknya sebagai mitra dalam menjalani proses kehidupan.


Isteri misalnya, tak hanya sekadar diminta pendapatnya terhadap sebuah persoalan, namun seringkali H. Moh. Sahnan menerima banyak masukan dari isteri untuk sebuah persoalan atau upaya yang dilakukan. Sehingga, tidak sebagai suami yang selalu dominan dalam menjalankan keluarga maupun usaha.


Begitu pula dengan anak-anaknya, terhadap mereka H. Moh. Sahnan tampak sangat memberi keleluasaan untuk menentukan pilihan, baik dalam pendidikan maupun usaha yang akan dijalani. Salah seorang anaknya sekarang belajar di Universitas Ciputra. Selain belajar ia telah sukses merintis usaha properti dan bisnis IT bersama rekan-rekannya sesama mahasiswa di Ciputra.


Sedangkan anaknya yang lain juga berhasil meraih prestasi tingkat kabupaten dan propinsi di bidang sains. Bahkan, beberapa kali anaknya berkesempatan mewakili sekolahnya mengikuti olimpiade, di bidang sains dan teknologi yang digelar di luar negeri.


Hal tersebut bisa terwujud berkat kekompakannya bersama sang isteri dalam memberi bekal pendidikan dan budi pekerti bagi anak-anaknya. Dengan begitu anak-anaknya merasa betul-betul mendapat penghargaan dan daulat di rumahnya sendiri, sehingga tidak butuh mencari ruang ekspresi yang menyimpang di luar rumah. (mc/htn)



Tekad, Semangat dan Pengabdian H. Moh. Sahnan